ANDIKA
Shinta membalikkan tubuh menghadap dinding untuk kesekian kali. Keringat masih juga mengalir deras meski kipas angin Cosmo pinjaman dari ibu kos menyala sejak sebelum matanya terpejam dan menyapu udara panas di kamar berukuran 3x3 meter. Kasur busa terasa seperti tripleks tepat di bawah tubuh montoknya. Guling pun bagaikan batu cadas ketika berada di dalam dekapan. Akhirnya kedua mata sipit itu terbuka. Kemerahan menahan kantuk. Dicobanya duduk dan bersandar di dinding. Pikirannya menerawang.
Ini malam yang dirasakan begitu panjang dilalui. Padahal tidak ada gemuruh yang membuatnya terjaga dalam ketakutan. Atau limpahan hujan badai yang memaksanya menutup telinga rapat-rapat. Justru malam benar-benar hening. Suara jangkrik saja absen mengisi malam pertengahan bulan Mei ini.
Sesuatu berkecamuk dalam pikirannya. Bukan sesuatu yang indah tapi justru dirambati tanda tanya di dalam hati. Karena kedua matanya menjadi saksi dan apa yang dilihatnya masih terekam dengan jelas.
Bermula di suatu hari. Dua jam setelah bel bubar sekolah hampir tidak ada satu murid pun terlihat di area bekas tanah sengketa pemerintah yang kini dijadikan bangunan SMU Kencana Bakti. Untuk menyelesaikan satu proposal Shinta terpaksa tetap duduk di ruang redaksi sementara teman-temannya tengah berjalan-jalan di mal.
Begitu pekerjaan selesai, dia memutuskan pulang lewat jalan belakang gedung sekolah. Meski sempit dan berdekatan dengan gudang tua, itu merupakan jalan pintas menuju pemberhentian bis terdekat. Tapi murid-murid jarang ada yang mau lewat sana. Ada isu beredar bahwa gudang tua itu dihuni orang asing yang menakutkan. Tapi kali ini terpaksa Shinta nekat. Jika kemalaman bis tidak akan lewat di daerah itu. Naik ojek tentu akan lebih mahal. Dia tidak ambil pusing dengan isu.
Cukup dengan berjalan beberapa langkah lalu merundukkan badan melewati pagar kawat yang rusak maka sampailah di tepi jalan. Tinggal menunggu bis yang akan mengantarkannya pulang. Jika menumpangi bis yang lewat di depan gerbang sekolah, Shinta masih harus menyambung dengan metromini yang semakin langka jika sudah sesore ini.
Shinta hampir sampai di ujung jalan kecil itu. Belum sempat melangkahkan kaki dia mendengar seperti suara erangan seseorang berasal dari dalam gudang
Dalam hati dia bertanya-tanya. Nyatakah isu itu? Jika benar lalu mengapa pihak sekolah belum bertindak agar murid-murid tidak dikecam ketakutan? Shinta terdorong rasa penasaran. Dia berdiri di bawah salah satu jendela kayu lalu pelan-pelan berdiri dan mengintip ke dalam.
Nafasnya tertahan. Di tengah gudang yang gelap ada secercah cahaya datang dari lampu bohlam kecil. Tepat di atas sosok yang dikenalnya, Andika.
Andika duduk di bangku, masih mengenakan celana panjang abu-abu. Dadanya telanjang. Dari lampu lima watt yang menerangi ruangan sumpek itu terlihat tubuhnya penuh dengan bekas luka-luka memanjang dan memar. Bahkan ada perban yang sepertinya baru diganti. Mungkin saat memasang perban itu dia mengerang kesakitan.
Shinta cepat-cepat merunduk ketika Andika mengangkat kepala. Dia berjalan ke arah berlawanan dengan tergesa-gesa. Dia tidak peduli jika perjalanannya menuju rumah akan semakin panjang asalkan Dika tidak menyadari kehadirannya tadi. Dicegatnya sebuah ojek yang kebetulan melintas di depan gerbang sekolah.
“Jalan Merpati, pak!” ucapnya cepat-cepat setelah duduk dan memakai helm.
Motor tua si tukang ojek pun meluncur kencang di atas jalan beraspal.
Sejak hari itu Shinta jadi memperhatikan gerak-gerik Andika. Tapi tidak ada yang aneh dengan anak itu. Kelihatannya baik-baik saja. Di kelas dia tetap seorang ketua kelas yang ramah. Senang bercanda dengan teman-temannya. Murid yang tekun mengikuti pelajaran. Siswa yang gemar berolahraga. Anak kesayangan guru-guru. Dan teman yang begitu lihai menyimpan masalahnya sendiri. Shinta tergelitik untuk mencari tahu sesuatu.
Hari Rabu jam pertama adalah pelajaran olahraga. Dipimpin Pak Jason yang mantan atlit baseball nasional. Guru bertubuh tegap dan jangkung itu mengajak 30 muridnya menuju kolam renang sewaan di seberang sekolah. Mereka diberi waktu mengganti seragam olahraga dengan pakaian renang. Begitu waktunya habis mereka diminta berkumpul kembali ke hadapan Pak Jason.
Shinta melirik Dika yang berbaris paling belakang. Masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Pak Jason memanggil Dika ke depan dengan suara tegasnya. Cukup membuat murid-murid lain menundukkan kepala. Sudah pasti dengan nada seperti itu Pak Jason sedang marah. Begitu Dika sampai di hadapannya, Pak Jason bertanya,
“Kamu seharusnya ingat hari ini Bapak ingin mengadakan seleksi untuk perwakilan sekolah mengikuti kejuaraan renang bulan depan.”
Dika mengangguk pelan.
“Saya ingat, Pak. Saya tidak bisa ikut seleksi tersebut.” Jawab Dika dengan datar. Wajahnya diangkat membalas tatapan mata Pak Jason.
“Bapak mengandalkan kamu, Dika. Catatan waktu kamu beberapa minggu lalu sangat baik.” Lanjut Pak Jason tidak mau kalah.
Dika mengeluarkan amplop dari dalam sakunya.
“Saya punya surat dokter, Pak.”
Pak Jason terdiam. Sudah tidak ada gunanya memaksa. Dika menolak mentah-mentah dan ada alasan yang bisa dipakai untuk melindungi dirinya.
Dahi Shinta berkerut. Baru kali ini dia mendengar Dika menolak kesempatan seperti ini. Memang masih banyak kandidat dari kelas lain, tapi Pak Jason selalu mengandalkannya. Kali ini agak berbeda.
Mungkinkah Dika takut jika saat kejuaraan nanti semua penonton bergidik ngeri melihat luka-lukanya karena harus bertelanjang dada? Benarkah dia memikirkan hal itu? Ataukah dia tidak percaya diri karena alasan lain?
Shinta melirik Dika yang kembali ke barisan belakang. Dia membayangkan jika luka-luka Dika yang masih diperban terkena air pasti akan sangat sakit rasanya. Dia merinding sendiri dan tidak mendengar saat Pak Jason memanggil namanya. Kedua kali baru dia tersadar.
“I..iya, Pak!”
“Gaya punggung 200 meter. Pemanasan dulu.” Ucap Pak Jason seraya menunjuk tepian kolam renang untuk diputari sebanyak lima kali.
“Baik, Pak!”
Keesokan harinya sepulang sekolah. Shinta sengaja pulang agak telat dan berniat melewati jalan belakang yang sempit. Jalannya berjingkat-jingkat takut sampai terdengar orang lain. Sampai di bawah jendela ditariknya nafas panjang-panjang. Dia tahu Andika ada di dalam dari suara penderitaan yang khas. Dia pelan-pelan menegakkan punggung dan mengintip.
Andika tengah melumuri kapas dengan cairan alkohol. Di dadanya ada luka menganga seperti ditusuk. Masih basah bahkan kembali mengeluarkan darah. Kemudian kapas itu ditempelkan tepat pada lukanya. Tak terhindarkan lagi terdengar suara erangan panjang yang menyayat. Rasa perih tidak hanya menyerang daerah itu tapi seolah dirasakan sekujur tubuh. Bukan kepalang. Rahangnya mengatup. Satu tangannya menggenggam tepian bangku kuat-kuat. Nafasnya tersengal-sengal. Dia mengambil kapas baru lalu membuang kapas yang sudah berganti warna merah ke dalam kantong kresek kecil.
“Di..Dika…kenapa tidak ke rumah sakit?” tanya Shinta lirih.
Dika mengangkat wajah. Dahinya berkerut saat melihat Shinta tiba-tiba berdiri di sana. Pandangannya mengedar memastikan tidak ada orang lain di tempat itu. Nafasnya terhela pendek.
“Buat apa? Toh begitu sembuh akan ada luka baru lagi.” Jawabnya tenang. Dia melumuri kapas dengan alkohol lalu mengusap daerah sekitar lukanya. Setelah itu diambilnya betadin dari dalam tas serta mempersiapkan perban baru.
Shinta berjongkok dan memasangkan perban dengan rapi sampai melekatkan isolasi tanpa diminta. Dika mengucapkan terima kasih.
“Tapi luka kamu parah, Dika. Harus dirawat. Kalau tidak…”
“Apa? Infeksi?” tantang Dika. Dia berdiri dan memperlihatkan kondisi tubuh yang mengenaskan sampai di bagian punggung. “Lihatlah ini. Fiuh. Aku tahu ada seseorang mengintipku beberapa hari lalu. Ternyata kamu.”
Dika duduk kembali. Dibiarkannya Shinta duduk di sebelahnya.
“Ini masalah keluarga, Ta. Sudah lama aku jadi pelampiasan kekecewaan ibu pada ayah. Jadi orang yang selalu dipukuli hampir setiap hari sampai dia capek sendiri. Ayah yang tidak berdaya apa-apa sudah lama tidak pulang. Tapi aku tidak mau meninggalkan rumah karena adik-adikku hanya akan jadi korban berikutnya.” Tutur Dika dengan raut wajah sedih.
Andika membereskan barang-barangnya setelah mengenakan seragam kembali kemudian berlalu dari hadapan Shinta. Perban yang baru dipasang terlihat jelas dari seragam yang mulai menipis dan menguning.
Dika melewati pagar kawat yang rusak. Lalu menyeberangi jalan beraspal yang sepi. Dia membalikkan badan sekedar sekilas menatap Shinta yang berdiri di ambang pintu gudang. Tidak lama kemudian sebuah angkot menepi dan membawanya pergi bersamaan dengan helaan nafas Shinta yang halus.
Yogyakarta, 6 Januari 2008